Pentingnya Mempelajari Ilmu Keluarga Di IKK

Manusia sebagai pelaku sektor pertanian, yang merupakan sumber utama penghasil pangan manusia, menjadikan manusia sebagai salah satu bagian dari pertanian itu sendiri. Untuk itulah, maka sudah menjadi sepantasnya didirikan departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) sebagai salah satu mayor termuda yang ada di Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) serta berada dalam naungan Institut Pertanian Bogor (IPB). IPB yang selama ini dikenal sebagai institut dengan sektor pertaniannya, menyelenggarakan pendidikan dan penelitian berkualitas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat melalui pengembangan IPTEKS yang inovatif. IKK sebagai departemen yang mengambil ranah keilmuan keluarga dan konsumen,  berperan dalam penguatan institusi keluarga, untuk menyiapkan dan mengembangkan sumberdaya manusia yang mampu berpikir kritis, berjiwa kepemimpinan yang bermoral dan berwatak, yang mendorong terbentuknya masyarakat Indonesia yang madani.

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang berfungsi sebagai wahana utama dan pertama bagi anggota-anggotanya untuk mengembangkan potensi, mengembangkan aspek sosial dan ekonomi, serta penyemaian cinta dan kasih sayang antar anggota keluarga. Untuk itu, keluargalah yang sangat berperan dalam menentukan kualitas terciptanya individu sebagai Sumber Daya Manusia (SDM). Tidak ada sekolah untuk membetuk keluarga yang berkualitas, yaitu keluarga yang didalamnya memiliki anggota–anggota yang merupakan SDM berkarakter, bermental kuat, mempunyai fisik yang tangguh, serta mempunyai pengetahuan dan wawasan yang luas.

Setiap keluarga mempunyai tipe, struktur, serta fungsi masing-masing yang mengalami perkembangan dinamika dari masa ke masa. Permasalahan umum yang biasanya dialami oleh keluarga diantaranya materi, hubungan sosial, serta daya tahan keluarga. Indonesia saat ini sudah memasuki era globalisasi, dimana semakin ketatnya persaingan yang harus dihadapi dalam membangun masyarakat untuk menjadi bangsa yang sejatera. Indonesia harus mempersiapkan kualitas sumberdaya manusia yang handal, berkarakter, dan berbudaya, dalam rangka membangun eksistensi bangsa.

Anak, sebagai bagian dari anggota keluarga merupakan individu yang membutuhkan bimbingan dan arahan untuk menjadi individu yang berkarakter dan berkualitas dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak mudah memang mendidik anak, diperlukan adanya pengetahuan dan wawasan orang tua mengenai psikologi untuk menyelami kepribadian anak dalam memberikan gaya pengasuhan yang sesuai dengan kepribadian sang anak.

Permasalahan yang terjadi di masyarakat tidak dapat terlepas dari permasalahan yang terjadi dalam setiap keluarga di Indonesia. Perkembangan zaman ikut mempengaruhi perkembangan keluarga dari masa ke masa. Untuk itu dibutuhkan peran orang tua dalam mengikuti perkembangan yang ada supaya dapat menerapkan pola pengasuhan yang cocok terhadap anak. Adanya kenakalan pelajar di Indonesia, dapat disebabkan oleh faktor lingkungan. Namun, yang paling menentukan sebenarnya adalah bagaimana keadaan kondisi keluarga pelajar itu sendiri. Menurut hasil survei, pelajar berlabel ‘nakal’ kebanyakan berasal dari keluarga yang serba kekurangan, baik dalam segi moril maupun materi. Hal ini diantaranya disebabkan oleh fokusnya orang tua mereka dalam upaya memenuhi kebutuhan materi dan menjadi terabaikannya kebutuhan psikologis mereka.

Voydanoff menyatakan, bahwa keterbatasan ekonomi berdampak pada hubungan dalam keluarga yang berkaitan dengan rasa kepuasan keluarga. Disebutkan bahwa setiap individu dan keluarga mempunyai respon yang bervariasi terhadap keterbatasan ekonomi keluarga. Hubungan antara masalah ekonomi keluarga dengan keadaan psikologi anak tergantung dari perilaku ayah, ibu, dan anak itu sendiri. Memang disebutkan dalam beberapa riset bahwa kesulitan ekonomi yang dirasakan keluarga secara langsung berpengaruh pada stress psikologi dan kenakalan remaja serta penggunaaan obat-obat terlarang pada sejumlah sampel remaja yang besar, hal ini diperantarai (mediated variable) oleh pengasuhan (nurturance) orangtua yang tidak baik dengan disiplin yang tidak konsisten (Bowen & Pittman, 1995).

Untuk itu sangat dibutuhkan adanya coping strategi, yaitu upaya-upaya penyesuaian keluarga yang harus dilakukan terhadap permasalahan yang ada baik dalam lingkungan mikro, meso, maupun makro, untuk mencapai tujuan utama keluarga, yaitu menjadi keluarga yang sejahtera dalam setiap bidang kehidupan. Selain itu, hubungan diadik antar anggota keluarga, seperti hubungan diadik antara orangtua dan anak, baik antara ayah-anak, ibu-anak, maupun ayah-ibu, merupakan dasar dan kunci dari kualitas hubungan antar anggota keluarga yang membuat setiap anggota keluarga merasa puas dan bahagia dalam hidupnya.

Tidak ada sekolah untuk menjadi orangtua yang baik.  Namun hal inilah justru yang merupakan sebagian kecil diantaranya dapat dipelajari sebagai ilmu keluarga di IKK, yang kemudian diharapkan untuk dapat diimplementasikan dalam kehidupan pribadi serta dapat disosialisasikan ke masyarakat awam.

“Bangsa yang maju terdiri dari keluarga-keluarga yang berkarakter.”

Sumber: Buku diktat kuliah

This entry was posted on Saturday, June 19th, 2010 at 11:46 am and is filed under Academic. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

Comments are closed.