Pengolahan Informasi dan Persepsi Konsumen

Consumer Behavior Class (Kelas Perilaku Konsumen)
Tuesday Afternoon
Department of Family and Consumer Sciences
College of Human Ecology
Bogor Agricultural University

Lecturer : Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, MSc
http://ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

Manfaat mempelajari Perilaku Konsumen

Oleh : Putri Wika Sari, Mayor IKK (Family and Consumer Science)

College of Human Ecology

 

Dalam perkuliahan kali ini, setelah Prof. Ujang menjelaskan mengenai materi tentang pengolahan informasidan persepsi konsumen, beliau meminta kami untuk membuat pertanyaan yang terdiri dari tiga jenis kata tanya, apa, mengapa, dan bagaimana yang kemudian dijawab sendiri oleh kita.

1. Apa yang dimaksud dengan ambang absolut (the absolute threshold)?

Ambang absolut adalah jumlah minimum intensitas atau energi stimulus yang diperlukan oleh seorang konsumen agar ia merasakan sensasi. Titik dimana seorang konsumen merasakan perbedaan “ada” dan “tidak ada” dari suatu stimulus.

2. Mengapa diperlukan pemahaman dalam proses pengolahan informasi pada diri konsumen?

Pemahaman adalah usaha konsumen untuk mengartikan atau menginterpretasikan stimulus, maka konsumen melakukan “perceptual organization” yang terdiri dari tiga prinsip, yaitu figure and ground, grouping, dan closure. Stimulus yang diterima konsumen berjumlah puluhan bahkan ratusan, stimulus tersebut tidak diperlakukan sebagai hal yang terpisah satu sama lainnya. Konsumen cenderung untuk melakukan pengelompokan stimulus sehingga memandangnya sebagai satu kesatuan. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman pada diri konsumen untuk memperoleh makna yang menyeluruh dari stimulus yang diterima.

3. Bagaimana proses pengolahan informasi pada diri konsumen terjadi?

Proses pengolahan informasi terjadi melalui lima tahapan, yaitu pemaparan (exposure) stimulus, yang menyebabkan konsumen menyadari stimulus tersebut melalui pancainderanya; perhatian (attention), kapasitas pengolahan yang dialokasikan konsumen terhadap stimulus yang masuk; pemahaman (comprehension), interpretasi terhadap makna stimulus; penerimaan (acceptance), dampak persuasif stimulus kepada konsumen; serta retensi (retention), pengalihan makna stimulus dan persuasi ke ingatan jangka panjang (long-term memory).

 



Kepribadian

Consumer Behavior Class (Kelas Perilaku Konsumen)
Tuesday Afternoon
Department of Family and Consumer Sciences
College of Human Ecology
Bogor Agricultural University

Lecturer : Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, MSc
http://ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

Manfaat mempelajari Perilaku Konsumen

Oleh : Putri Wika Sari, Mayor IKK (Family and Consumer Science)

College of Human Ecology

 

Pada bab ini, Prof. Ujang menjelaskan mengenai apa itu kepribadian.

Kepribadian merupakan sifat manusia yang membedakan antar individu yang konsisten, namun juga dapat berubah, yang terdiri dari fisik dan karakter.

Teori Kepribadian Freud (pshychoanalitic theory of  Personality) terdiri atas tiga unsur yang saling berinteraksi, yaitu Id, Superego, dan Ego.  Kebutuhan yang tidak disadari (unconscious needs) atau dorongan dari dalam diri manusia (drive), seperti dorongan seks dan kebutuhan biologis adalah inti dari motivasi dan kepribadian manusia.

Teori Neo-Freud, merupakan pengembangan dari teori kepribadian, kombinasi dari sosial dan psikologi yang menekankan bahwa manusia berusaha untuk memenuhi apa yang dibutuhkan masyarakat danmasyarakat membantu individu dalam memenuhi kebutuhan dan tujuannya. Hubungan sosial adalah faktor dominan dalam pembentukan dan penegmbangan kepribadian manusia.

Segmentasi pasar terdiri dari empat dimensi, yaitu geografi, demografi, psikografis, dan behaviour. Yang termasuk psikografis diantaranya yaitu gaya hidup, kepribadian, serta values. Gaya hidup (life style) merupakan pola konsumsi seseorang yang terdiri dari tiga dimensi, yaitu aktifitas, minat , serta opini.

Setelah selesai memberikan materi perkuliahan, Prof. Ujang membagi kelompok untuk mendiskusikan apa yang menjadi gaya hidup negatif dan positif dari tiap anggota kelompok serta tren gaya hidup dari masyarakat kita yang ada sekarang.

Berikut rangkuman hasil diskusi dari kelompok saya:

Anggota Kelompok :

Testa Pradia Nirwana I34080057

Widita Arindi              I34080097

Putri Wika Sari            I24080076

Siti Chaakimah            I34100043

Septian Maulana         I34100020

Gaya hidup adalah pola konsumsi yang menggambarkan pilihan seseorang dalam menggunakan uang dan waktu.

Gaya hidup seseorang dipengaruhi oleh sifat-sifat kepribadiannya.

Berikut adalah karakter positif dan karakter negatif yang kami miliki.

Karakteristik Putri Wika Sari

Positif: baik, friendly, mandiri, bertanggung jawab, sabar.

Negatif: kurang percaya diri, tergesa-gesa, agak pemalu, kurang tegas, pelupa.

Hasil rekapitulasi dari sikap positif dan negatif yang dimiliki oleh lebih dari satu orang di dalam kelompok kami:

Positif Negatif
Sabar Pemalu
Baik Pendiam
Tidak Sombong Pelupa
Ramah Labil
Religius Bimbang
Bertanggung jawab Malas
Ceria Moody
Dermawan Tergesa-gesa
Suka menolong Jorok
Religius Cuek

Gaya hidup masyarakat saat ini cenderung menjadi follower. Mereka cenderung mengikuti apa yang sedang tren. Mereka mengikuti apa yang dipakai oleh public figure atau artis-artis yang sering menampang di TV. Seperti trennya cara pakai kerudung ala Marshanda, atau pakaian kaftannya Syahrani. Masyarakat tidak mempunyai pendirian bagi dirinya sendiri.

Dalam kasus teknologi pun seperti itu. Saat ini pemakaian internet sudah mencapai masyarakat kalangan bawah. Siapa saja sudah bisa dengan mudah mengaksesnya. Bahkan anak usia SD sekali pun!

Dalam masalah makanan, masyarakat lebih memilih fast food disbanding makanan yang padat gizi. Meski begitu, pendidikan tetap menjadi perhatian utama, hal ini dibuktikan dengan banyaknya ibu-ibu yang memasukkan anaknya ke sekolah ketika ia baru berusia dua tahun.



Pendahuluan, Motivasi dan Kebutuhan

Consumer Behavior Class (Kelas Perilaku Konsumen)
Tuesday Afternoon
Department of Family and Consumer Sciences
College of Human Ecology
Bogor Agricultural University

Lecturer : Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, MSc
http://ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

Manfaat mempelajari Perilaku Konsumen

Oleh : Putri Wika Sari, Mayor IKK (Family and Consumer Science)

College of Human Ecology

 

Meskipun saya tidak mengikuti kuliah pertama dan kedua karena sakit, saya tetap berusaha untuk mengetahui isi bahasan pada kedua bab tersebut dengan membaca text book Perilaku Konsumen yang ditulis oleh Prof. Ujang.

Inti yang saya dapatkan yaitu:

1. Mengapa kita perlu memahami konsumen?

Di dalam era globalisasi dan pasar bebas saat ini, berbagai jenis barang dan jasa dengan ratusan merek membanjiri pasar tanah air. Persaingan antarmerek setiap produk akan semakin tajam dalam merebut konsumen. Bagi konsumen, pasar menyediakan berbagai pilihan produk dan merek yang banyak. Konsumen bebas memilih produk dan merek yang akan dibelinya dan keputusan dalam pembelian ada di tangan konsumen itu sendiri. Konsumen akan menggunakan berbagai kriteria dalam memeilih dan membeli suatu produk dan merek tertentu. Diantaranya, konsumen akan membeli produk yang sesuai dengan kebutuhan, selera, serta daya belinya. Konsumen tertentu akan memilih produk yang bermutu lebih baik dengan harga yang lebih murah.

Perilaku konsumen pada hakikatnya untuk memahami “why do consumers do what they do”, dimana semua kegiatan, tindakan, serta proses psikologi yang mendorong tindakan tersebut pada saat sebelum membeli, ketika membeli, menggunakan, menghabiskan produk dan atau jasa setelah melakukan hal-hal tersebut atau kegiatanmengevaluasi.

Para pemasar berkewajiban untuk memahami konsumen, mengetahui apa yang dibutuhkan, apa selera, dan bagaimana seorang konsumen mengambil keputusan, sehingga pemasar dapat memproduksi barang dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Pemahaman yang mendalam mengenai konsumen akan memungkinkan pemasar dapat mempengaruhi keputusan konsumen, sehingga konsumen mau membeli apa yang ditawarkan oleh pemasar. Persaingan yang ketat antarmerek menjadikan konsumen memiliki posisi yang semakin kuat dalam proses tawar menawar.

 

2. Adanya Motivasi dan Kebutuhan pada diri Konsumen

Motivasi muncul karena adanya kebutuhan yang dirasakan oleh konsumen. Kebutuhan tersebut muncul karena konsumen merasakan ketidaknyamanan (state of tension) antara yang seharusnya dirasakan dan yang sesungguhnya dirasakan. Kebutuhan yang dirasakan (felt needs) seringkali dibedakan berdasarkan kepada manfaat yang diharapkan dari pembelian dan penggunaan produk. Perilaku (tindakan) adalah berorientasi tujuan (goal-oriented behaviour). Artinya, untuk memenuhi kbutuhannya seorang konsumen harus memiliki tujuan akan tindakannya. Tujuan adalah suatu cara untuk memenuhi kebutuhan.

Menurut teori Maslow, manusia berusaha memenuhi kebutuhan tingkat rendahnya terlebih dahulu sebelum memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi. Kebutuhan manusia ada lima berdasarkan tingkat kepentingannya mulai dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi, yaitu kebutuhan fisiologis (makanan, air, udara, seks), kebutuhan rasa aman dan keamanan (perlindungan, peraturan dan Undang-Undang), kebutuhan sosial (dihormati, berteman, rasa memiliki), kebutuhan ego (status, percaya diri, harga), serta aktualisasi diri (sukses, kuasa). Sednagkan menurut teori motivasi McClelland, terdapat tiga kebutuhan dasar yang memotivasi seorang individu untuk berperilaku, yaitu kebutuhan untuk sukses (needs for achievement), kebutuhan untuk afiliasi (needs for affiliation), dan kebutuhan kuasa (needs for power).

Dua aplikasi penting dari teori motivasi adalah segmentasi, dimana para pemasar mengarahkan produk atau jasa untuk target pasar berdasarkan tingkat kebutuhan konsumen serta positioning, yang merupakan citra produk atau jasa yang ingin dilihat oleh konsumen.



Pengamatan Sosial Bayi ke Arah Ibu dan Orang Asing


Baik secara implisit maupun eksplisit, banyak penelitian yang  telah mengasumsikan bahwa pengasuh utama akan menjadi sumber referensi pilihan (Feinman et al., 1992). Asumsi ini berasal dari gagasan bahwa bayi akan selektif dipengaruhi oleh sifat hubungan mereka dengan orang-orang yang memberikan pesan sosial-emosional.

Seperti yang diperkirakan, frekuensi dan kecepatan yang memandang ke arah orang asing meningkat dan menjadi lebih cepat seiring dengan usia. Hasil ini lebih konsisten dengan referensi social referencing perspective dan attachment perspective, yaitu bayi yang lebih tua diperkirakan akan lebih cenderung mencari informasi sosial daripada bayi yang lebih muda, yang mungkin lebih berorientasi pada kenyamanan emosional. Gagasan ini terkait dengan suatu dalil yang disebut “efek keahlian”. Diusulkan oleh Feinman (Feinman et al., 1992), hipotesis ini mengasumsikan bahwa bayi mungkin akan mampu merespons berbagai tingkat keahlian individu dalam lingkungan sosial. Menurut penulis, apa yang penting dalam referensi sosial untuk merujuk kepada “orang-orang yang berpikir dan perilaku melihat untuk meningkatkan probabilitas menerima konsekuensi menyenangkan (Feinman et al., 1982, hlm. 460)”. Oleh karena itu, jika bayi percaya bahwa informasi sosial yang mereka peroleh mungkin lebih berharga daripada yang lain, mereka dapat mengalihkan perhatian orang yang lebih informatif.

Karena penelitian tidak memanipulasi tingkat keahlian, kesimpulan di atas adalah spekulatif. Ada penelitian empiris yang pasti tidak memberikan bukti apakah bayi telah memiliki beberapa pemahaman dasar keahlian; meskipun banyak penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang lebih tua salah menilai keadaan mental dan kemampuan seseorang (misalnya, Astington, 1991), orang lain melaporkan bahwa bahkan bayi berusia 12 bulan dapat berhasil membedakan pesan penyedia layanan yang relevan dari penyedia yang tidak relevan (Musa, Baldwin, Rosicky, & Tidball, 2001). Terlepas dari itu, masalah ini adalah topik yang menjanjikan untuk penelitian masa depan. Sebagai contoh, sebuah percobaan di mana setiap pesan selular memberikan pesan yang berbeda, hanya satu pesan, yang dapat menjelaskan pertanyaan-pertanyaan tentang sifat bayi yang terlihat sosial.

Selain keahlian postulat, ada beberapa penjelasan alternatif untuk bayi dalam memandang ke arah orang-orang asing dalam penelitian ini. Kebanyakan hipotesis alternatif, bagaimanapun, tidak dapat dengan mudah menjelaskan perbedaan usia yang ditemukan dalam penelitian ini. Sebagai contoh, sebuah “efek kebaruan” dapat menjelaskan mengapa bayi tampak dengan orang asing lebih sering daripada para perawat mereka. Yaitu, bayi mungkin tidak asing untuk memperoleh informasi tentang rangsangan, tetapi lebih kepada kemampuan bayi untuk memperoleh informasi tentang orang asing itu sendiri. Kami percaya bahwa hal baru memainkan peran penting dalam menarik perhatian orang dalam situasi sehari-hari, dan mungkin terjadi dalam eksperimen kami juga. Di sisi lain, kebaruan saja tidak bisa dengan mudah menjelaskan mengapa bayi dalam penelitian cenderung untuk melihat ke arah orang asing lebih sering dari waktu ke waktu, ketika kebaruan harus menurunkan eksposur sedikit pun meningkat. Kedua dan lebih penting lagi, efek kebaruan tidak membahas temuan bahwa bayi berusia 24 bulan tampak lebih sering ke arah orang asing dari bayi berusia18-bulan. Dengan demikian, kami menyimpulkan bahwa meskipun kebaruan mungkin memainkan peran penting bayi memandang ke arah orang asing, hasil penelitian ini menyarankan bahwa mungkin terlihat seperti lebih dari sekedar melihat hasil rangsangan.

Kedua, ada kemungkinan bahwa bayi ‘mencari untuk orang dewasa mungkin dipengaruhi oleh bayi’ pengalaman yang berbeda dengan penyedia pesan. Artinya, sejak bayi telah berinteraksi dengan para perawat mereka lebih sering daripada orang-orang asing, mungkin akan lebih mudah bagi mereka untuk mendeteksi pesan-pesan emosional yang halus dari tokoh-tokoh asing daripada dari orang asing (suatu “efek keakraban”).

Namun, hipotesis ini juga tidak mudah menjelaskan perbedaan usia. Menurut pandangan ini, bayi berusia 18-bulan mungkin diharapkan untuk melihat ke orang asing lebih sering dari bayi berusia 24 bulan, yang akan lebih efisien dalam pengkodean perilaku sosial dewasa daripada rekan-rekan muda mereka. Selain itu, penelitian empiris secara umum menunjukkan bahwa bayi berusia lebih dari 7 bulan tidak menunjukkan kesulitan mendeteksi dewasa ekspresi bahagia dan takut langsung (Kestenbaum & Nelson, 1990; Nelson & Dolgin, 1985; Walker-Andrews & Dickson, 1999). Dengan demikian, berdasarkan argumen di atas, bayi yang lebih muda seharusnya memandang baik orang dewasa lebih dari rekan-rekan yang lebih tua, atau setidaknya sama seperti yang sering.

Sebuah kombinasi dari beberapa proses dapat memberikan penjelasan lebih baik. Misalnya, mencari sosial mungkin disebabkan karena adanya hal baru ditambah pengalaman. Ketika bayi bertemu dengan orang asing (misalnya, pergi ke dokter bedah), mereka sering menghadapi rangsangan baru juga. Pengalaman-pengalaman itu dapat mengaitkan objek-objek baru dengan orang asing, dan mengenal objek dengan akrab mitra sosial. Demikian pula, kombinasi dari hal baru dan pengembangan kognisi sosial bayi mungkin membuat bayi lebih mengenal orang asing. Jadi, meskipun hasil penelitian yang paling konsisten dengan perspektif referensi sosial, mereka tidak mengesampingkan kemungkinan lain.

Jawaban yang lebih pasti mungkin diperoleh jika dampak dari pesan ibu dalam mengatur perilaku bayi telah dibandingkan dengan pesan orang-orang asing, tetapi tidak mungkin untuk mengesampingkan efek-efek dalam penelitian ini baik sebagai ibu dan orang asing yang terpapar secara bersamaan. Bayi dapat merujuk kepada dipengaruhi oleh ibu mereka daripada oleh orang asing, mengingat masa lalu mereka ikatan emosional dengan pengasuh utama.

Terlepas dari keterbatasan di atas, temuan-temuan dari penelitian ini menyarankan sejumlah topik penting tentang bayi referensi sosial yang tetap harus dijawab. Penelitian ini membahas persoalan bukan hanya tentang “apakah bayi bisa melakukannya atau tidak”, tetapi juga masalah “siapa dari mereka yang aktif memilih”. Sebagai Walden (1991) menunjukkan, hampir semua penelitian referensi dalam tradisi psikologi sosial dewasa memiliki mencoba untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi referensi orang-orang asing (misalnya, Giffin, 1967; McGinnies & Ward, 1980; Shavitt, Swan, Lowery, & Wanké, 1994), sedangkan ahli psikologi perkembangan telah tertarik dalam pengembangan referensi ibu. Penelitian menyelidiki bayi memandang ke arah ibu dan orang asing merupakan langkah menuju akumulasi mengintegrasikan pengetahuan dan perkembangan sosial psikologi referensi sosial.

Sumber: Jurnal Internasional “Infants’ Social Looking Toward Mothers and Srangers”



Pentingnya Mempelajari Ilmu Keluarga Di IKK

Manusia sebagai pelaku sektor pertanian, yang merupakan sumber utama penghasil pangan manusia, menjadikan manusia sebagai salah satu bagian dari pertanian itu sendiri. Untuk itulah, maka sudah menjadi sepantasnya didirikan departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) sebagai salah satu mayor termuda yang ada di Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) serta berada dalam naungan Institut Pertanian Bogor (IPB). IPB yang selama ini dikenal sebagai institut dengan sektor pertaniannya, menyelenggarakan pendidikan dan penelitian berkualitas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat melalui pengembangan IPTEKS yang inovatif. IKK sebagai departemen yang mengambil ranah keilmuan keluarga dan konsumen,  berperan dalam penguatan institusi keluarga, untuk menyiapkan dan mengembangkan sumberdaya manusia yang mampu berpikir kritis, berjiwa kepemimpinan yang bermoral dan berwatak, yang mendorong terbentuknya masyarakat Indonesia yang madani.

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang berfungsi sebagai wahana utama dan pertama bagi anggota-anggotanya untuk mengembangkan potensi, mengembangkan aspek sosial dan ekonomi, serta penyemaian cinta dan kasih sayang antar anggota keluarga. Untuk itu, keluargalah yang sangat berperan dalam menentukan kualitas terciptanya individu sebagai Sumber Daya Manusia (SDM). Tidak ada sekolah untuk membetuk keluarga yang berkualitas, yaitu keluarga yang didalamnya memiliki anggota–anggota yang merupakan SDM berkarakter, bermental kuat, mempunyai fisik yang tangguh, serta mempunyai pengetahuan dan wawasan yang luas.

Setiap keluarga mempunyai tipe, struktur, serta fungsi masing-masing yang mengalami perkembangan dinamika dari masa ke masa. Permasalahan umum yang biasanya dialami oleh keluarga diantaranya materi, hubungan sosial, serta daya tahan keluarga. Indonesia saat ini sudah memasuki era globalisasi, dimana semakin ketatnya persaingan yang harus dihadapi dalam membangun masyarakat untuk menjadi bangsa yang sejatera. Indonesia harus mempersiapkan kualitas sumberdaya manusia yang handal, berkarakter, dan berbudaya, dalam rangka membangun eksistensi bangsa.

Anak, sebagai bagian dari anggota keluarga merupakan individu yang membutuhkan bimbingan dan arahan untuk menjadi individu yang berkarakter dan berkualitas dalam berbagai aspek kehidupan. Tidak mudah memang mendidik anak, diperlukan adanya pengetahuan dan wawasan orang tua mengenai psikologi untuk menyelami kepribadian anak dalam memberikan gaya pengasuhan yang sesuai dengan kepribadian sang anak.

Permasalahan yang terjadi di masyarakat tidak dapat terlepas dari permasalahan yang terjadi dalam setiap keluarga di Indonesia. Perkembangan zaman ikut mempengaruhi perkembangan keluarga dari masa ke masa. Untuk itu dibutuhkan peran orang tua dalam mengikuti perkembangan yang ada supaya dapat menerapkan pola pengasuhan yang cocok terhadap anak. Adanya kenakalan pelajar di Indonesia, dapat disebabkan oleh faktor lingkungan. Namun, yang paling menentukan sebenarnya adalah bagaimana keadaan kondisi keluarga pelajar itu sendiri. Menurut hasil survei, pelajar berlabel ‘nakal’ kebanyakan berasal dari keluarga yang serba kekurangan, baik dalam segi moril maupun materi. Hal ini diantaranya disebabkan oleh fokusnya orang tua mereka dalam upaya memenuhi kebutuhan materi dan menjadi terabaikannya kebutuhan psikologis mereka.

Voydanoff menyatakan, bahwa keterbatasan ekonomi berdampak pada hubungan dalam keluarga yang berkaitan dengan rasa kepuasan keluarga. Disebutkan bahwa setiap individu dan keluarga mempunyai respon yang bervariasi terhadap keterbatasan ekonomi keluarga. Hubungan antara masalah ekonomi keluarga dengan keadaan psikologi anak tergantung dari perilaku ayah, ibu, dan anak itu sendiri. Memang disebutkan dalam beberapa riset bahwa kesulitan ekonomi yang dirasakan keluarga secara langsung berpengaruh pada stress psikologi dan kenakalan remaja serta penggunaaan obat-obat terlarang pada sejumlah sampel remaja yang besar, hal ini diperantarai (mediated variable) oleh pengasuhan (nurturance) orangtua yang tidak baik dengan disiplin yang tidak konsisten (Bowen & Pittman, 1995).

Untuk itu sangat dibutuhkan adanya coping strategi, yaitu upaya-upaya penyesuaian keluarga yang harus dilakukan terhadap permasalahan yang ada baik dalam lingkungan mikro, meso, maupun makro, untuk mencapai tujuan utama keluarga, yaitu menjadi keluarga yang sejahtera dalam setiap bidang kehidupan. Selain itu, hubungan diadik antar anggota keluarga, seperti hubungan diadik antara orangtua dan anak, baik antara ayah-anak, ibu-anak, maupun ayah-ibu, merupakan dasar dan kunci dari kualitas hubungan antar anggota keluarga yang membuat setiap anggota keluarga merasa puas dan bahagia dalam hidupnya.

Tidak ada sekolah untuk menjadi orangtua yang baik.  Namun hal inilah justru yang merupakan sebagian kecil diantaranya dapat dipelajari sebagai ilmu keluarga di IKK, yang kemudian diharapkan untuk dapat diimplementasikan dalam kehidupan pribadi serta dapat disosialisasikan ke masyarakat awam.

“Bangsa yang maju terdiri dari keluarga-keluarga yang berkarakter.”

Sumber: Buku diktat kuliah